Surah Al-Ikhlas (Arab:الإخلاص, "Memurnikan Keesaan Allah") adalah surah ke-112 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan keesaan Allah sembari menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kalimat inti dari surah ini, "Allahu ahad, Allahus shamad" (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung), sering muncul dalam uang dinar emas pada zaman Kekhalifahan dahulu. Sehingga, kadang kala kalimat ini dianggap sebagai slogan negara Khilafah Islamiyah, bersama dengan dua kalimat Syahadat.
Asbabun Nuzul
Ada beberapa hadits yang menjelaskan Asbabun Nuzul surah ini yang mana seluruhnya mengacu pada inti yang sama yaitu jawaban atas permintaan penggambaran sifat-sifat Allah dimana Allah itu Esa (Al-Ikhlas [112]:1), segala sesuatu tergantung pada-Nya (Al-Ikhlas [112]:2), tidak beranak dan diperanakkan (Al-Ikhlas [112]:3), dan tidak ada yang setara dengan Dia (Al-Ikhlas [112]:4).
Dilihat dari peristiwa paling pertama, Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan bahwa sekelompok Bani Quraisy pernah meminta Nabi Muhammad untuk menjelaskan leluhur Allah dan kemudian turun surah ini. Riwayat lain bersumber dari Ubay bin Ka'ab dan Jarir bin Abdillah yang menyebutkan bahwa kaum Musyrikin berkata kepada Nabi Muhammad, "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Kemudian turun surah ini untuk menjelaskan permintaan itu. Dalam hadits ini, hadits yang bersumber dari Jarir bin Abdullah dijadikan dalil bahwa surah ini Makkiyah. Selain itu dari Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair menyebutkan bahwa kaum Yahudi yang diantaranya Kab bin Ashraf dan Huyayy bin Akhtab datang menemui Nabi dan bertanya hal yang sama dengan hadits pertama, kemudian turun surah ini. Dalam hadits ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surah ini termasuk Madaniyah. Dan juga riwayat Qatadah menyebutkan Nabi Muhammad didatangi kaum Ahzab (Persekutuan antara kaum Bani Quraisy, Yahudi Madinah, Bani Ghatafan dari Thaif dan Munafiqin Madinah dan beberapa suku sekitar Makkah) yang juga menyanyakan gambaran Allah dan diikuti dengan turunnya surah ini.
Karena adanya berbagai sumber yang berbeda, status surah ini Makkiyah atau Madaniyah masih dipertanyakan dan seolah-olah sumber-sumbernya tampak kotradiksi satu-sama lain. Menurut Abul A'la Maududi, dari hadits-hadits yang meriwayatkannya, dilihat dari peristiwa yang paling awal terjadi, surah ini termasuk Makkiyah. Peristiwa yang pertama terjadi yaitu pada periode awal Islam di Mekkah yaitu ketika Bani Quraisy menanyakan leluhur Allah. Kemudian peristiwa berikutnya terjadi di Madinah dimana orang Nasrani atau orang Arab lain menanyakan gambaran Allah dan kemudian turun surah ini. Menurut Madudi, sumber-sumber yang berlainan tersebut menujukkan bahwa surah itu diturunkan berulang-ulang. Jika di suatu tempat ada Nabi Muhammad dan ada yang mengajukan pertanyaan yang sama dengan peristiwa sebelumnya, maka ayat atau surah yang sama akan diwahyukan kembali untuk menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, bukti bahwa surah ini Makkiyah adalah ketika Bilal bin Rabah disiksa majikannya Umayyah bin Khalaf setelah memeluk Islam. Saat disiksa ia menyeru, "Allahu Ahad, Allahu Ahad!!" (Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa!!). Peristiwa ini terjadi di Mekkah dalam periode awal Islam sehingga menunjukkan bahwa surah ini pernah diturunkan sebelumnya dan Bilal terinspirasi ayat surah ini.
Pendapat lain yaitu menurut as-Suyuthi. Menurutnya kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab tertuju pada Musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga mengindikasikan bahwa surah ini Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dan dengan begitu menurutnya tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut jika surah ini Madaniyah. Keterangan ini diperkuat juga oleh riwayat Abus Syaikh di dalam Kitab al-Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar datang menemui Nabi dan berkata, "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Nabi tidak menjawab dan kemudian Jibril membawa wahyu surah ini untuk menjawab permintaan Yahudi Khaibar.
Keutamaan
Dalam kisah-kisah Islam
Dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa pahala membaca sekali surah Al-Ikhlas sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an sehingga membaca 3 kali surah ini sama dengan mengkhatam Al-Qur'an. Kisah terkait hadits itu terekam dalam beberapa kisah. Seperti kisah ketika Nabi bertanya kepada sahabatnya untuk mengkhatam Al-Qur'an dalam semalam. Umar menganggap mustahil hal itu, namun begitu Ali menyanggupinya. Umar kemudian menganggap Ali belum mengerti maksud Nabi karena masih muda. Ali kemudian membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 3 kali dan Nabi Muhammad membetulkan itu. Dalam hadits-hadits terkait hal ini, keutamaan surah Al-Ikhlas sangat memiliki peran dalam Al-Qur'an sehingga sekali membacanya sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.
Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surah Al-Ikhlas yaitu dimana 70.000 malaikat diutus kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal hingga meredupkan cahaya matahari. 70.000 malaikat itu diutus hanya karena ia sering membaca surah ini. Dan karena banyaknya malaikat yang diutus, Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasannya dimana kemudian malaikat Jibril datang memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.
Keutamaan lain
Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan Nabi Muhammad ketika melakukan Isra' ke langit, melihat Arsy di atas 360.000 sendi dimana jarak antar sendi 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap sendi terdapat padang Sahara sebanyak 12.000 dan luas tiap satu padang sahara itu adalah dari timur ke barat. Pada setiap padang Sahara itu juga terdapat 80.000 malaikat dimana setiap malaikat membaca surah Al-Ikhlas dan setelah membaca itu mereka berdoa agar pahala mereka diberikan kepada orang yang membaca al-Ikhlas, laki-laki maupun perempuan.
Selain itu Nabi Muhammad juga pernah berkata bahwa Qul Huwallahu Ahad (ayat 1) tertulis pada sayap Jibril, Allahus Shamad (ayat 2) pada sayap Mikail, Lam Yalid Walam Yuulad (ayat 3) pada sayap Izrail, dan Walam Yaqullahu Khufuwan Ahad (ayat 4) pada sayap Israfil. Dan yang membaca al-Ikhlas memperoleh pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Lalu berkaitan sahabat, Nabi pernah berkata bahwa Qul Huwallahu Ahad (ayat 1) tertulis pada dahi Abu Bakar, Allahus Shamad (ayat 2) pada dahi Umar, Lam Yalid Walam Yuulad (ayat 3) pada dahi Utsman, dan Walam Yaqullahu Khufuwan Ahad (ayat 4) pada dahi Ali.
Sedangkan hadits lain menyebutkan bahwa ketika orang membaca al-Ikhlas ketika sakit hingga ia meninggal, ia tidak membusuk dalam kubur dan akan dibawa malaikat dengan sayapnya melintasi Siratul Mustaqim menuju surga.
Kamis, Desember 31, 2009
Surah Al-Ikhlas
Diposting oleh
hesti octavia
di
08.28.00
0
komentar
Label: my lesson
Jumat, Desember 18, 2009
Bengkoknya Wanita
“Menyebalkan sekali perempuan ini. Ditegur sedikit sudah mengeluh.Diberi nasihat lembut-lembut, berbicara baik-baik hehhh menyebalkan sekali. Tapi kalau dibiarkan malah menjadi-jadi! Pekerjaan kita pun jadi terganggu. Bekerja dengan semangat, tak lihat kanan-kiri lagi.”
“Eh apa yang kau keluhkan ini, Fuad? Siapa yang membuatmu kesal?”
“Staff aku si Lina tuh lho. Baru ditegur sedikit, sudah mutung. Hari ini sudah tidak datang kerja. Susah memang kalau begini. Pekerjaan atasan akan terganggu.”
“Barangkali aja dia ada apaa gitu. Kamu belum tahu alasan sebenarnya sudah ngambil kesimpulan gitu aja.”
“Halllaaagh….perempuan memang kayak gitu. Kan Nabi pun bersabda bahwa perempuan itu ibarat tulang rusuk yang bengkok? Karena itu perempuan suka bikin masalah. Kalau kita luruskan, nanti patah. Kalau dibiarkan terus malah makin bengkok. Hahhhh susah..susah.”
“Jangan berbicara seperti itu, Fuad. Maksud hadist tersebut bukan seperti itu.”
“Eh, kan hadist tersesbut sudah lumrah untuk diketahui? Apa yang tak benar, Naim?”
“Maksud aku begini. Menafsirkan hadist tersebut seolah-olah perempuan itu memang Allah ciptakan sebagai satu golongan yang “disadvantage” seperti yang kamu bilang barusan seolah-olah mengatakan Allah itu berat sebelah. Padahal Allah itu Maha Adil dan Dia ciptakan lelaki dan perempuan sama saja dari segi kemampuan mereka untuk meningkatkan iman dan menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Bengkok yang disebut di dalam hadist tersebut bukan bermakna mereka itu senantiasa cenderung melakukan perkara-perkara yang tidak baik.”
“Buktinya, ketika Rasulullah Saw datang membawa ajaran Islam, baginda menaikan taraf perempuan. Mereka sebelumnya dianggap “golongan tak berguna” kemudian dijadikan “sayap kiri” masyarakat. Beliau memberika tugas-tugas yang penting kepada para perempuan, terutama bila kau m lelaki pergi berperang. Sebagai sayap kiri, tentulah mereka berperanan menyeimbangkan sayap kanan.”
“Tapi memang para perempuan itu kuat merajuk. Jenuh kita melayani mereka.”
“Merajuk bukan hanya (bisa) dilakukan perempuan saja. Para lelaki pun jago merajuk.Mungkin cara merajuk atau cara ‘protes’ itu yang tak sama. Puncak merajuk sebab iman lemah, bukan sebab jenis kelamin. Lagipula, apa salahnya kalau kita tegur perempuan dengan berlemah lembutdan hikmah. Bukankah begitu tuntunan Islam? Kalau kita marah-marah sehingga mereka protes, bukan mereka yang salah, tetapi kitalah yang salah. Barangkali saja, waktu itu kita lebih ‘bengkok’ daripada mereka!”
“Ah kamu ini. Senang betul membela perempuan.”
“Aku bukannya niat membela siapa-siapa. Aku cuma ingin meluruskan pemahaman yang tidak betul terhadap hadist tersebut.”
“Aaaa apa maksud hadist tersebut sebetulnya?”
“Perempun yang diibaratkan seperti tulang rusuk yang bengkok itu bukan bermakna satu kekurangan, tapi sebenarnya adalah satu “penyempurnaan” . Seperti halnya juga usus manusia yang berlipat-lipat dan berlingkaran itu bukanlah satu kekeliruan tetapi begitulah keadaan usus yang sempurna. Bengkoknya tulang rusuk itu karena ia bersifat `pelindung`. Ia melindungi organ-organ penting di dalam tubuh manusia seperti jantung, paru-paru, hati dan limpa. Kalau tulang kakilah yang diletakkan di dada manusia, sudah tentu ia tidak dapat berperanan sebagaimana tulang rusuk yang bengkok itu.”
“Oh begitu. Jadi bila Nabi katakan yang perempuan itu seperti tulang rusuk yang bengkok, Beliau hanyalah hendak memperlihatkan perbedaan peranan mereka dibanding lelaki?”
“Begitulah. Selain itu, maksud `tulang rusuk yang bengkok` itu ialah sifat `rahmah`. Perempuan itu sifat alaminya penyayang. Perasaannya halus. Kerana adanya sifat-sifat itu, perempuan bisa bersabar menjaga dan mengurus anak-anaknya yang beragam karakter. Mereka juga sabar dan tekun melakukan kerja-kerja rumah yang mungkin bagi kita sangat membosankan. ”
“Begitu jugalah di dalam masyarakat, perempuan sangat sesuai menjadi guru, perawat, dan apa juga bidang yang sesuai dengan kemampuannya. Oleh itu jangan coba buang sifat “bengkok” ini dari perempuan dengan memberikan mereka tugas-tugas yang tidak sesuai. Kalau tulang rusuk sudah patah, organ-organ yang penting tadi tidak akan selamat.”
“Jadi peranan mereka sebenarnya penting. Bayangkanlah betapa besar peranan dan jasa ibu yang menjaga dan mengasuh kita dari kecil hinggalah besar.”
“Hmm, betul itu Naim.”
“Sebenarnya tak ada seorangpun yang `bengkok` mengikuti tafsiran yang kamu gunakan. Bengkok atau tidaknya seorang lelaki atau perempuan itu bergantung kepada iman dan akhlaknya. Lelaki kalau tidak berusaha untuk membuang sifat-sifat yang terkeji di dalam dirinya pun akan jadi bengkok juga, malah lebih bengkok dari perempuan yang berusaha memperbaiki dirinya.”
“Baru aku sadar, akulah yang bengkok. Senang marah-marah dan tidak sabar.”
“Memang tidak sepatutnya kita lihat orang lain itu lebih `bengkok` daripada kita. Sebaliknya kita patut sentiasa merasakan yang kitalah yang lebih `bengkok` daripada semua orang lain di muka bumi ini… “
*Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Hari Akhirat, maka janganlah menyakiti tetangganya dan hendaklah dia menjaga wanita dengan sebaik-baiknya kerana sesungguhnya mereka diciptakan daripada tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas, jika kamu berusaha untuk membetulkannya kamu akan mematahkannya, jika kamu terus biarkan begitu ia akan terus bengkok. Oleh itu terimalah amanah supaya menjaga wanita-wanita dengan baik. (Hadis riwayat al-Bukhari no: 4890)
====
Diedit ulang dari www.iluvislam.com (editor: NuurZaffan)
Diposting oleh
hesti octavia
di
08.14.00
0
komentar
Label: my lesson
Senin, November 30, 2009
Kunci Pintu Surga Dan tiada ilah (yang benar) selain Dia
Pertama dan Terakhir
Ikrar bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah adalah kewajiban pertama setiap orang. Maknanya, sebelum mengikrarkan hal ini, apa pun yang dikerjakan oleh seseorang tidak ada nilainya di sisi Allah, meski ia bersedekah emas sebesar gunung Uhud. Ikrar inilah yang menjadi pembeda antara seorang muslim dengan seorang kafir.
Rasulullah saw. bersabda:
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’, maka siapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ terjagalah dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya itu urusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan ikrar itu pula kewajiban yang terakhir. Maknanya, saat seseorang dijemput maut, hatinya mesti dalam keadaan mengikrarkan hal ini. Jika demikian halnya ia akan mendapatkan kebahagiaan abadi, sedangkan jika sebaliknya yang didapatkannya adalah api yang menyala selama-lamanya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang akhir ucapannya (sebelum mati) adalah ‘Laa ilaaha illallaah’ niscaya masuk surga.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Kunci Bergerigi
Ketika menjelaskan perihal hadits di atas, Imam Bukhari menyitir pernyataan Wahab bin Munabbih (34-110 H), seorang tabi’in, saat ditanya tentang ungkapan ‘Laa ilaaha illallaah’ adalah kunci surga. Wahab bin Munabbih tidak menampik pendapat itu. Beliau membenarkannya dengan memberikan catatan.
Katanya:
“Setiap kunci pastilah bergerigi khusus. Maka jika kamu membawa kunci dengan gerigi yang tepat, pintu pun terbuka untukmu, sedangkan jika gerigi kuncimu tidak tepat pintu pun tak akan terbuka.”
Berangkat dari pernyataan Wahab bin Munabbih inilah para ulama menjelaskan bahwa gerigi yang dimiliki oleh kunci surga ‘Laa ilaaha illallaah’ ada tujuh. Jika diri kita memilikinya dengan tepat, pintu surga terbuka untuk kita. Ketujuh gerigi itu adalah:
1. Ilmu
Seorang yang mengikrarkan ‘Laa ilaaha illallaah’ mestilah mengerti makna dan konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ yang diucapkannya. Tanpa diikuti pemahaman dan ilmu yang benar tentang makna dan konsekuensinya, ikrar seseorang takkan bermakna. Apalah makna ucapan seorang yang mabuk yang hanya memahami sebagian dari ucapannya? Atau ucapan orang tidur, bermimpi, dan ‘ngelindur’?
Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Barangsiapa mati sementara ia mengerti bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Allah, niscaya masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Yakin
Setelah mengilmui dan mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ supaya ikrarnya diterima Allah, seseorang mestilah yakin akan hal itu. Keyakinan yang tidak disertai keraguan sedikitpun.
Al-Qurthubi menyatakan:
“Pelafalan dua kalimat syahadat saja tidaklah cukup (sebagai syarat masuk surga); harus ada keyakinan hati.”
Pernyataan beliau sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yan benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)
3. Menerima
Karena keimanan seseorang tidak berhenti pada keyakinan, maka apa pun yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ harus diterima. Menolak satu perkara saja sama dengan menolak keseluruhannya. Yang demikian itu karena apa-apa yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ adalah satu kesatuan yang jika dipisah-pisahkan menjadi tidak berarti.
Jika perkara yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ berupa kabar maka wujud penerimaan kita adalah meyakini kebenarannya; jika itu sudah terjadi kita yakin bahwa itu sudah terjadi, dan jika itu belum terjadi kita pun mesti yakin bahwa itu pasti terjadi. Adapun jika perkara yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ berupa perintah atau larangan maka kita tidak boleh meyakini kebalikannya. Yang wajib adalah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya; yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya juga.
4. Patuh
Yang dimaksud patuh di sini adalah pangkal kepatuhan atau iradah (kehendak) hati. Maksudnya: saat menghadapi ayat-ayat perintah atau larangan, tidak boleh terdetik di hati kita keengganan atau kesombongan untuk melaksanakannya. Bukankah Iblis dilaknat dan dicap kafir karena enggan dan sombong?
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu (Nabi Muhammad saw.) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa orang yang tidak melaksanakan perintah atau melanggar larangan belum tentu ia enggan dan sombong terhadap perintah atau larangan itu. Bisa jadi ia lalai, tidak sengaja, atau terpedaya oleh tipuan setan seperti halnya Adam yang mendekati pohon ‘terlarang’. Dan Adam tidak dilaknat dan tidak dicap kafir oleh Allah karena pelanggaran yang dilakukannya itu.
5. Sebenar-benarnya
Maksud sebenar-benarnya (shidiq) di sini adalah tidak menipu Allah (baca: menipu diri sendiri) dan tidak bermain-main dalam mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’. Ibnu Rajab Al-Hambali menyatakan bahwa orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu ia mentaati setan dan hawa nafsunya dalam bermaksiat kepada Allah dan menyelisihinya, sama saja ia telah bermain-main dengan ucapannya. Perbuatannya mendustai ucapannya.
Allah berfirman:
“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 8-9)
6. Ikhlas
Ikhlas artinya memurnikan setiap perkataan dan perbuatan hanya karena Allah. Maknanya, apa pun perkataan dan perbuatan yang menjadi konsekuensi dari kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ mesti dihadirkan karena Allah, bukan selain-Nya. Yang demikian itu karena suatu perkataan atau perbuatan tidak akan diterima oleh Allah jika diikuti dengan riya’ atau sum’ah.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman:
“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan hal mana ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, niscaya aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)
7. Cinta
Yang dimaksud cinta di sini adalah mencintai kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’, semua konsekuensinya, dan mencintai orang-orang yang komitmen kepadanya. Kemudian membenci dan memusuhi apa saja yang bertentangan dengan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’. Begitu pun dengan orang-orang yang menentangnya.
Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Mengertikah Para Sahabat?
Kadang muncul pertanyaan, apakah para sahabat dulu juga mengerti bahwa gerigi kunci ini ada tujuh? Bagi yang mengerti bagaimana kodifikasi suatu ilmu itu hadir mestinya tidak kesulitan menjawab pertanyaan ini. Sebab, adanya para ulama menyatakan bahwa gerigi kunci ini ada tujuh adalah karena mereka mengkaji bagaimana kehidupan para sahabat; dan mereka mendapati bahwa meski para sahabat tidak tahu gerigi yang tujuh itu tetapi kehidupan mereka mencerminkan bahwa ketujuh gerigi itu sudah mendarah daging dengan mereka.
Wallahu a’lam.
Diposting oleh
hesti octavia
di
10.38.00
0
komentar
Label: my lesson
Cara Mengobati Rakus dan Tamak
Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga unsur: sabar, ilmu, dan amal. Secara keseluruhan terangkum dalam hal-hal berikut ini:
1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta.
2. Jika seseorang bisa mendapatkan kebutuhan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar.
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقُهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-’Ankabut: 60)
3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dan dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut, dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.
4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina.
5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأَنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim)
Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi.
Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya.
Dirangkum dari Terjemahan Mukhtashar Minjahul Qashidin (hlm.253-255), karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Maret 2004; dengan pengubahan seperlunya oleh redaksi www.muslimah or.id)
Diposting oleh
hesti octavia
di
09.59.00
0
komentar
Label: my lesson